Di tengah gaya hidup modern yang serba instan, kisah Dewi Motik di usia 77 tahun ini terasa begitu hangat dan menyejukkan. Di usianya sekarang, ia masih aktif mengajar, bepergian keliling Indonesia dan dunia, serta dengan lantang menyuarakan pentingnya kembali pada jamu, daun kelor, dan herbal tradisional untuk menjaga kesehatan. Semua berawal dari didikan ibunda yang mengenalkannya pada jamu sejak pertama kali ia menstruasi, ditambah kebiasaan menanam sendiri berbagai tanaman obat di halaman rumah.
Warisan Jamu dari Ibu di Mangkunegaran
Perkenalan Dewi Motik dengan dunia jamu dan herbal tidak terjadi tiba-tiba, melainkan mengalir dari sosok ibunya yang tumbuh dalam lingkungan budaya Jawa yang kuat di kawasan Mangkunegaran. Ibunya bersekolah di sebuah lembaga bergengsi yang saat itu dipimpin oleh Gusti Nurul, putri Mangkunegaran yang dikenal cantik dan berkelas. Di sana, sang ibu belajar berbagai keterampilan, mulai dari wironan, sungaran, tata sanggul Jawa, hingga mengenal beragam jenis jamu dan ramuan tradisional.
Padahal secara asal-usul, ibunda Dewi adalah seorang bangsawan dari Palembang, Sumatera Selatan, namun ia mampu menyatu dengan tradisi Jawa dan menyerap ilmu yang diajarkan dengan sangat baik. Pengetahuan jamu inilah yang kemudian ia turunkan kepada putrinya, Dewi Motik. Dewi bercerita, saat pertama kali mengalami menstruasi di usia 9 tahun, ibunya langsung menyuruhnya minum jamu agar tubuh tetap kuat dan sehat. Sejak saat itu, jamu dan minuman herbal menjadi bagian dari kesehariannya, bukan sesuatu yang asing atau “aneh”, meski pahitnya “setengah mati”.
Jamu dan Herbal sebagai Gaya Hidup Sejak Usia 9 Tahun
Bagi Dewi Motik, jamu bukan sekadar minuman tradisional, melainkan gaya hidup sehat yang ia jalani konsisten sejak kecil. Ia terbiasa menerima nasihat ibunya bahwa sesuatu yang pahit di lidah bisa sangat baik untuk tubuh, dan prinsip ini ia pegang hingga kini. Ia tumbuh dengan kebiasaan memandang jamu bukan sebagai obat darurat yang diminum hanya saat sakit, tetapi sebagai pendamping hidup sehari-hari untuk menjaga keseimbangan tubuh dan daya tahan.
Kebiasaan inilah yang membuat jamu terasa natural dalam hidupnya, bukan sesuatu yang dipaksakan. Baginya, tubuh yang sejak kecil dikenalkan pada jamu dan tanaman herbal akan lebih mudah menerima manfaatnya seiring bertambahnya usia. Pengalaman panjang bersama jamu dan herbal inilah yang kini ia bagikan kepada generasi muda, agar mereka berani memulai gaya hidup sehat dari rumah sendiri.
Kebun Herbal Dewi Motik: Daun Kelor, Pepaya, hingga Belimbing Wuluh
Salah satu praktik nyata gaya hidup sehat ala Dewi Motik adalah kebun herbal mini di halaman rumahnya yang menjadi “apotek hidup” keluarga. Di bagian depan rumah, ia menanam berbagai tanaman yang menurutnya wajib ada, terutama daun kelor yang ia sebut sebagai rajanya dan ratunya daun karena diyakini dapat membantu mengatasi banyak penyakit. Menurut Dewi, kalau satu tanaman seperti kelor manfaatnya begitu besar dan sangat mudah ditanam, sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan.
Selain kelor, Dewi juga menanam pepaya yang dikenal sebagai tanaman paling mudah tumbuh dan sangat bermanfaat, baik buah maupun daunnya. Tidak berhenti di situ, ia menambahkan tanaman lain seperti belimbing wuluh yang sering dipakai dalam masakan maupun ramuan tradisional. Semua tanaman ini tumbuh berdampingan di satu area, sehingga sewaktu-waktu dibutuhkan ia hanya perlu memetik dari halaman sendiri.
Dewi juga peka terhadap musim dan kondisi cuaca. Ia memanfaatkan musim hujan sebagai momen ideal untuk menanam dan membiarkan tanaman tumbuh subur, sementara di musim kemarau ia rajin menyiram agar tanaman tetap hidup. Dengan cara sederhana ini, kebun herbalnya selalu hidup dan produktif, benar-benar menjadi apotek hidup yang bisa diandalkan setiap hari.
Rahasia Sehat di Usia 77 Tahun
Ketika diminta menceritakan dampak yang ia rasakan setelah puluhan tahun mengonsumsi jamu dan memanfaatkan tanaman herbal, Dewi Motik menjawab dengan rendah hati. Di usia 77 tahun, ia bersyukur masih diberi kesehatan untuk tetap mengajar, berpikir jernih, dan bepergian keliling Indonesia maupun mancanegara. Ia menegaskan bahwa kebiasaan minum jamu sudah dimulai sejak usia 9 tahun, jauh sebelum istilah “healthy lifestyle” menjadi tren.
Dewi tidak mengklaim jamu sebagai satu-satunya faktor yang membuatnya bugar, tetapi secara jujur mengakui bahwa jamu dan tanaman herbal kemungkinan besar punya andil besar dalam menjaga kesehatan dan energinya hingga hari ini. Ia merasa tubuhnya “terbiasa dirawat” dengan cara yang sama selama puluhan tahun, sehingga efeknya benar-benar terasa ketika memasuki usia lanjut. Bagi Dewi, konsistensi lebih penting daripada keajaiban instan; apa yang dilakukan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun akan terasa hasilnya di masa tua.
Tips Dewi Motik untuk Generasi Muda: Mulai dari Satu Pohon Kelor
Melihat banyak anak muda yang ingin hidup lebih sehat namun bingung harus mulai dari mana, Dewi Motik memberikan tips yang sangat praktis dan mudah dijalankan: tanam daun kelor di rumah. Ia berkali-kali menegaskan bahwa kelor itu murah, mudah ditanam, dan khasiatnya luar biasa, sehingga tidak ada alasan untuk tidak mencobanya. Baginya, satu pohon kelor di halaman rumah bisa menjadi awal perubahan besar dalam pola hidup sehat sebuah keluarga.
Ia mendorong generasi muda untuk tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi berani mengambil langkah konkret. Mulai dari membeli bibit, menanamnya di pot atau tanah, merawat hingga tumbuh, lalu perlahan belajar mengolahnya menjadi makanan atau minuman sehat, adalah langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan siapa saja. Dewi sendiri memberi contoh nyata: ia sering meminta pembantunya mencabut batang kelor untuk diberikan kepada orang lain agar mereka bisa menanam di rumah masing-masing.
Menurutnya, menjadi sehat tidak selalu harus mahal. Dengan sedikit usaha dan kemauan belajar, halaman rumah bisa berubah menjadi sumber kesehatan yang terus memberi, bukan sekadar ruang kosong.
Ia memandang media seperti Selaras sebagai ladang ilmu jariyah: ketika media menyebarkan informasi yang baik dan bermanfaat, maka kebaikannya akan terus mengalir kepada banyak orang. Karena itu, ia berharap Media Selaras bisa terus maju, semakin dibutuhkan, dan konsisten menjadi rujukan bagi masyarakat yang ingin hidup lebih sehat dan dekat dengan jamu serta herbal. Di penghujung sesi, Dewi mengajak pembaca untuk terus membaca dan mengikuti konten-konten Selaras, karena di sanalah banyak ilmu baik bisa dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.






